Piong, Ketan Bambu Sulawesi Selatan

Paling seneng kalau ke suatu daerah tiba-tiba nemu makanan yang belum pernah diliat sebelumnya. Rasanya seperti dapat harta karun. Mungkin bahkan saya lebih seneng menemukannya dibanding memakannya haha. Ada yang seperti saya?

Itu kenapa saya super senang ketika sedang melihat acara adu kerbau di Toraja, di tengah tengah penonton menyembul seorang ibu ibu yang dikelilingi bambu yang di tutup dengan plastik. Makanan tersebut bernama Piong. Piong adalah ketan hitam, yang dimasak di dalam bambu. Eits, jangan salah! Ini bukan Pa’piong. Pa’piong adalah makanan khas Toraja berbahan dasar daging yang pertama kali muncul bila kita meng-googling makanan khas Toraja, dan reviewnya akan saya post nanti. Sementara, piong adalah ketan bakar bambu.

Nah, setelah dibakar, bambu tersebut lantas dikupas bagian luarnya hingga tipis. Saya baru pertama kali melihat makanan yang dimasak di dalam bambu lalu bambunya susah payah dikupas lagi. Tetapi, ternyata cara ini membuat tampilan makanan menjadi lebih bersih dan segar karena tidak ada jejak kehitaman arang atau jelaga. Bambu yang dikupas juga membuat penjualnya lebih mudah membawa piong karena berat bambu jadi berkurang. Setelah itu, piong di potong  menjadi bagian-bagian kecil, sekitar setengah jengkal lebih. Satu potong piong dijual dengan kisaran harga Rp 5000,-

Untuk memakannya, bambu tinggal dikelupas, lalu piong bisa langsung digigit atau di sendok. Karena lapisan bambu sudah sangat tipis, bambu bisa dikupas dengan sangat mudah menggunakan tangan. Untuk rasa, piong dimasak tanpa tambahan santan atau gula, jadi rasanya cenderung tawar. Jauh berbeda dengan leumang yang dimasak dengan santan dan garam sehingga ada rasa gurih, asin dan bertekstur pulen. Apalagi piong menggunakan ketan hitam sebagai bahan utamanya, teksturnya menjadi jauh lebih keras dan tidak sepulen leumang. Oh, satu lagi! Karena piong menggunakan ketan hitam, kalau lupa kumur-kumur sehabis makan, sisa ketan hitam suka menyisa di gigi, tidak seperti makanan berbahan dasar ketan putih.

Karena rasanya cenderung tawar, saya sendiri cukup bingung menghabiskan satu ruas piong. Akhirnya piong saya makan bersama taburan gula pasir. Tapi mungkin karena rasanya yang cenderung tawar, piong cocok menjadi makanan utama yang dimakan dengan lauk pokok. Atau mungkin bisa disajikan dengan taburan kelapa parut, Nyum!

Piong is a traditional Torajan food made of black sticky rice cooked in bamboo. It tasted a little plain, which is a bit confusing to eat. But it certainly taste better if served with grated coconut, or maybe piong could be substitute for rice and served with side dish, nyum!

-A

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s